• Rabu, 29 September 2021

Warga Blitar Protes Soal Harga Jagung yang Tinggi, GMNI Tawarkan Solusi ke Kementan

- Kamis, 9 September 2021 | 14:03 WIB
Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino
Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino

Bicaralah.com - Protes seorang pria melalui poster bertuliskan "Pak Jokowi Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar" saat mobil Presiden Joko Widodo beranjak meninggalkan lokasi vaksinasi di area PIPP Kota Blitar, Jawa Timur, menunjukkan bahwa klaim Kementerian Pertanian terkait peningkatan produksi pangan ternyata tidak benar.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI), Arjuna Putra Aldino, menyebut, Kementan melalui Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) Sekretariat Jenderal Kementan menyatakan bahwa proyeksi neraca jagung hingga 2021 mencatat surplus.

“Disebutkan prediksi Kementan produksi jagung akan terus meningkat menjadi 32,65 juta ton pada 2021. Tapi faktanya peternak menjerit karena harga pakannya yang berbahan baku jagung kian meroket. Stok melimpah seharusnya harga terjangkau," ujar Arjuna

Harga jagung terus naik selama lima bulan terakhir hingga menyentuh sekitar Rp 6.200 per kg pada Mei 2021, diatas harga yang dipatok Permendag.

Melambungnya harga jagung, turut menyebabkan harga pakan terkerek naik dari Rp 6.974 per kg pada awal tahun menjadi Rp 7.379 per Mei 2021.

Arjuna menyayangkan kegagalan Kementan menciptakan manajemen stok jagung pemerintah. Sehingga hanya secara data sering kali disebut melimpah, namun realisasinya tidak mencukupi.

Menurut Arjuna, manajemen stok jagung sangatlah penting untuk menjamin ketersediaan jagung nasional.

Dengan demikian, ketersediaan jagung tidak bergantung musim dan tidak sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar yang membuat harga jagung dalam negeri sepenuhnya bergantung pada harga jagung dunia dan nilai tukar mata uang.

“Masalah klasik jagung seharusnya bisa diselesaikan dengan penciptaan manajemen stok, pengelolaan cadangan pasca panen. Sehingga ketersediaan jagung tidak bergantung musim dan tidak diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar bebas. Perlu ada tangan pemerintah untuk menciptakan keseimbangan permintaan dan pasokan”, tambah Arjuna

Selain itu, Arjuna juga meminta Kementan untuk mengevaluasi rantai pasok atau alur tata niaga jagung. Pasalnya, harga jagung ditingkat konsumen tidak merefleksikan harga jagung ditingkat petani.

Hal ini disebabkan rantai pasok jagung yang sangat panjang dan tidak efisien. Di setiap tahapan mata rantai pasok jagung terdapat tengkulak dan pedagang besar yang mengambil keuntungan yang relatif besar sehingga harga jagung ditingkat konsumen ikut malambung tinggi.

Untuk itu, GMNI meminta Kementan bekerja memperpendek rantai pasok jagung agar lebih efisien. Dengan demikian, munculnya kartel yang mengendalikan pasar dan menghambat transmisi harga bisa dihindari.

Arjuna juga mengkritik peran Kementan yang hanya sebatas fokus pada dukungan sarana fisik, pengawasan dan penciptaan rantai pasok yang efisien tidak diperhatikan.

“Kementan harus turun tangan benahi tata niaga jagung. Karena distribusi logistik jagung salah satu faktor pembentuk harga. Jangan sampai lebih memilih impor, solusi instan untuk stabilitas daripada memperbaiki rantai pasok jagung. Kita tunggu political will dari Menteri Pertanian," tandas Arjuna.

Editor: bowo

Tags

Terkini

Kasus Investasi Bodong, Pelaku Terancam 15 Tahun Penjara

Sabtu, 25 September 2021 | 15:08 WIB

Jokowi Bohong Lagi, Kali Ini Soal BBM Satu Harga

Senin, 20 September 2021 | 16:48 WIB

Pertamina Naikan 2 Jenis BBM, Apa Saja?

Senin, 20 September 2021 | 09:57 WIB

Perry Warjiyo Kembali Terpilih Sebagai Ketum ISEI

Rabu, 1 September 2021 | 14:08 WIB

Terpopuler

X