• Sabtu, 29 Januari 2022

Nilai Ekspor Indonesia ke China Tembus Hingga 85,3 Miliar Dollar AS

- Kamis, 18 November 2021 | 13:12 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bicaralah.com - Kepabeanan China mencatat, angka pertumbuhan perdagangan Indonesia ke negeri tirai bambu naik 52,8 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Lonjakan sebesar itu membuat total nilai perdagangan Indonesia dengan China pada periode Januari – September 2021 mencapai nilai tertinggi dalam kurun waktu 20 tahun kerja sama perdagangan dua negara, yaitu mencapai 85,3 miliar dollar AS.

Duta Besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, mengungkapkan suka citanya atas pencapaian ini yang menurutnya sangat menggembirakan, yang berarti posisi Indonesia naik satu peringkat dibandingkan tahun 2020.

“Indonesia saat ini dapat mempertahankan posisinya di peringkat ke-4 sebagai negara pengekspor terbesar ke China di antara negara anggota ASEAN lainnya. Dan yang cukup menggembirakan, di antara seluruh negara mitra sebagai eksportir ke China, posisi Indonesia naik satu peringkat dibandingkan tahun 2020. Sebelumnya kita ada di posisi ke-14, saat ini kita ada di posisi ke-13," katanya, Kamis (18/11/2021).

Ia berharap kenaikan ini bisa terus ditingkatkan lagi.

Nilai ekspor Indonesia ke China tercatat mencapai 42,8 miliar dolar AS, tumbuh 59.7 persen dibandingkan dengan total nilai ekspor Indonesia ke China tahun 2020 dalam periode yang sama. Sementara nilai impor Indonesia dari China dalam periode ini juga tumbuh positif sebesar 46.5 persen atau mencapai 42,5 miliar dolar AS dibandingkan total nilai impor tahun lalu.

Atase Perdagangan KBRI Beijing, Marina Novira, mengungkapkan, untuk periode Januari-September 2021, data Kepabeanan China menunjukkan nilai defisit Indonesia terhadap Tiongkok merosot hingga 109.2 persen, menghasilkan surplus bagi Indonesia sebesar 208,1 juta dollar AS.

Adapun produk unggulan dan potensial Indonesia dalam periode ini yang mengalami peningkatan nilai ekspor signifikan di atas 60 persen dalam kode HS dua digit, di antaranya; Bahan bakar mineral dan produk sulingannya (HS 27) meningkat 86.7 persen, besi dan Baja (HS 72) meningkat 86.2 persen, kemudian lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) meningkat 118.9 persen, dan aneka produk kimia (HS 38) meningkat 105.1 persen.

Sementara residu dan sisa dari industri makanan (HS 23) meningkat 111.1 persen. Untuk kopi, teh, mate, dan rempah-rempah (HS 09) meningkat 96.6 persen.

Nikel dan turunannya (HS 75) meningkat 54645.4 persen, lalu serat stapel buatan (HS 55) meningkat 68 persen.

Halaman:

Editor: Tri Wibowo Santoso

Tags

Terkini

Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi Rp 6.026 Triliun

Senin, 15 November 2021 | 12:35 WIB

Pemerintah Harus Transparan Soal Harga Modal PCR

Senin, 8 November 2021 | 11:25 WIB
X