• Rabu, 27 Oktober 2021

Proyek Kereta Cepat Bakal Jadi Bom Waktu

- Rabu, 13 Oktober 2021 | 14:21 WIB
Pembangunan infrastruktur kereta cepat Bandung-Jakarta
Pembangunan infrastruktur kereta cepat Bandung-Jakarta

Bicaralah.com - Dari dulu saya malas bicara kereta cepat Jakarta-Bandung. Bagi saya tidak masuk akal.

Tapi entah kenapa Presiden getol betul masukkan barang ini menjadi proyek strategis nasional. Ketika biaya bengkak hingga Rp113,9 triliun saat ini, dibuatkan revisi Perpres pula (Perpres 93/2021) yang memungkinkan APBN membiayai proyek itu, suatu hal khas Jokowi yaitu menelan ludah sendiri (sebelumnya ia bilang tidak akan pakai APBN).

Inti Perpres itu sederhana saja: mengangkat Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) sebagai Ketua Komite Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung. Mengubah KAI menjadi pimpinan konsorsium. Menyuruh LBP mengatasi bagian kewajiban perusahaan (PT Kereta Cepat Indonesia China/KCIC) dengan mengupayakan perubahan porsi saham dan syarat utang. Lalu menegaskan dukungan pemerintah via APBN/Penyertaan Modal Negara dan penjaminan pemerintah kalau mau utang lagi.

Coba kita pikir hal-hal berikut ini:

1. Urgensi bisnisnya saja tidak jelas. Dulu KA Parahyangan ditutup. Lalu menjadi KA Argo Parahyangan. Basis penumpangnya itu-itu saja. Kok, sekarang membangun bisnis yang sama lagi. Jika yang dibangun adalah proyek jet cepat, balon terbang kilat, atau gorong-gorong virtual Jakarta-Bandung masih masuk akal.

2. Coba lihat susunan pengurus KCIC. Komposisi saham adalah 60% PT Pilar Sinergi BUMN (Wijaya Karya, PTPN VIII, PT KAI, dan Jasa Marga) dan 40% Beijing Yawan HSR Co. Ltd (China Railway International Co. Ltd, China Railway Group Limited, Sinohydro Corporation Limited, CRRC Corporation Limited, dan China Railway Signal and Communication Corporation). Dengan kepemilikan mayoritas, posisi strategis malah diduduki tetangga sebelah: Presiden Komisaris GuoJiang, Direktur Keuangan Zhang Chao, dan Direktur Teknis HSR Xiao Songxin. Ada yang kenal nama-nama inikah?

3. Urusan keuangan dan teknis mereka yang kontrol dan sekarang senegara sibuk bertanya mengapa biaya membengkak. Alasannya simpel: karena pihak sana yang menghitung RAB-nya. Kenapa begitu? Komposisi saham bolehlah kita 60% (mayoritas) dan itu berarti jangan dipikir untungnya saja tapi jika ada beban (utang) kita menanggung lebih besar. Posisi strategis justru dipegang mereka, yaitu kontraktornya!

Konsorsium kontraktornya (HSRCC) adalah 30% WIKA, 70% pihak China. Kalau mereka kontraktornya, mereka yang atur perencanaan, teknis, hingga bahan/materialnya. Proyek kereta cepat meningkatkan demand atas material seperti baja, beton, dsb. Itulah kenapa pada bulan lalu ada berita di "China Daily" tentang impor rel besi baja seberat 5.550 metrik ton untuk proyek ini yang dikirim dari Pelabuhan Fangchenggang di Provinsi Guangxi.

Bengkaknya biaya tidak semudah ocehan Kementerian BUMN karena pandemi atau dalih KCIC karena biaya pembebasan lahan dan fasum/fasos. Itu ngeles saja!

4. Karena biaya bengkak, maka utang juga bengkak. Ingat, 75% proyek ini dibiayai utang dari China Development Bank berbunga 2%, tenor 10 tahun. Bengkaknya itu dari awalnya US$5,5 miliar, US$6,1 miliar, dan sekarang US$8 miliar (Rp113,9 triliun).

Halaman:

Editor: Tri Wibowo Santoso

Artikel Terkait

Terkini

Revolusi Mental Nenek Lu

Senin, 18 Oktober 2021 | 17:25 WIB

Proyek Kereta Cepat Bakal Jadi Bom Waktu

Rabu, 13 Oktober 2021 | 14:21 WIB

Penilaian Profesor Kishore Keliru dan Berbahaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 09:29 WIB

PDI-P Pasca Megawati

Jumat, 10 September 2021 | 19:41 WIB

Ambisi Pribadi Presiden Bikin Bahaya Indonesia

Jumat, 10 September 2021 | 15:30 WIB

Efek Basis dalam Lompatan Pertumbuhan Ekonomi

Jumat, 6 Agustus 2021 | 10:23 WIB

Grogi Denny Siregar

Rabu, 4 Agustus 2021 | 12:21 WIB

Gagal Fokus Anggaran Penanganan Pandemi

Senin, 26 Juli 2021 | 13:46 WIB
X